Oleh Hania
Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial Dan Ilmu Politik
Prodi Ilmu Komunikasi
Universitas Muhammadiyah Prof. Dr Hamka
Judul : Boeah Fikiran Kijai H.A.DachlanPenulis : Abdul Munir Mulkhan
Penerbit : Global Base Review & STIEAD Press
Tahun Terbit : Juli 2015
Kota Terbit : Yogyakarta
Cetakan-1
ISBN : 978-602-71457-2-6
Ini adalah rangkuman penting yang saya baca dalam buku "Boah Fikiran Kijai H.A.Dachlan" disini saya hanya menulis point yang penting di dalam buku tersebut.
Boeah Fikiran Kijai H.A Dachlan waktu masih hidup manusia adalah pengetahuan yang terlaku amat besar sehingga memenuhi, bagi kemanusiaan umum. Jejak Pemikiran islam Kiai Ahmad Dahlan Menifisto Pembelaan Kaum Tertindas prinsip kerja PKO (Kini MPKU), terlihat jelas insklusif dan kultural gerakan Muhammadiyah sebagai mana pemikirannya, sifat dan sikap demikian itu merupakan penjelas mengenai penafsiran islam pendiri gerakan islam modern terbesar didunia tersebut. Dalam dokumen yang sama dinyatakan "Barang siapa yang akan mengambil air itu diperkenankan, asal tidak dengan sengaja akan membunuh aliran dan menutup mata airnya".
Deklarasi Gerakan Welas Asih ini menjadikan pembelaan pada kaum tertindas melalui pendekatan ke welas asihan sebagai implementasi nilai kerahmatan islam bagi seluruh segidan ranah kehidupan. Ke welas asihan menjadikan gerakan ini bekerja untuk semuah orang dari semuah latar belakang atnis dan kepemelukan agama. Buah pemikiran Kiai Dahlan, Kiai Dahlan memandang bahwa seluruh manusia dari bangsa harus bersatu bagi kebaikan hidup bersama karna seluruhnya manusia dari bangsa harus bersatu bagi kebaikan hidup bersama karena seluruhnya merupakan keturunan Adam.
Sejak berdiri pada masa orde baru dan sesudahnya, aktivitas Muhammadiyah secara perorangan terlibat aktif dalam berbagai beragam partai politik yang islami, sekuler atau nasionalis. Partai pilihan utama dari aktivis Muhammadiyah itu harus berubah dari Masyumi, Parmusi, PPP, Golkar dan PAN. Namun, pada masa reformasi dan sebelumnya, tidak sedikit aktivis dan warga Muhammadiyah yang memilih dan terlibat aktif di PDI atau PDI-P dan PBB, PK(S), dan PBR.
Sudah seratus tahun Muhammadiyah berdiri tahun 1912. Kiai Haji Ahmad DAhlan pendiri Muhammadiyah yang mempelipori berbagai tradisi sosio-ritual Islam di negeri ini. Tradisi sosio-ritual ialah kegiatan sosial sebagai bentuk dari pengabdian ibadah kepada Allah, seperti pembinaan kesehatan, pendidikan, santunan sosial, dan kedermawanan sosial (filantropi).
Dalam pembangunan gedung sekolah dengan memberikan infaq, sodaqoh, dan zakat. Pembangunan tempat ibadah berupa mushollah dan masjid dibtempat umum, seperti di pasar, stasiun kereta api, dan terminal bus.
Semuanya manusia, mesti mempunyai kebutuhan, sebab hidupnya manusia ada di dunia itu, tidak dipertempatkanbdiatas tempat yang bekerja. Bahasa pintar dan bodoh itu, jalan suatu bahasa yang sebaik-baiknya, akan tetapu kebanyakan manusia itu sama saja diantara pintar dengan bodoh yakni suka akan barang yang diserujuu, dan sengit akan barang yang tidak diserujui.
Surat Al-Ma'un sering ditempatkan sebagai rujukan utama yang isinya bahwa ritual formal (salat) tidak ada artinya bagi pembuktian keberimanan kecuali diikuti pembelaan pada kaum tertindas dan surat, Al-Anfaal ayat 47 : Dan turutlah Allah dengan pesuruhnya, dan Allah itu beserta dengan orang yang sabar. Guna memahami Al-Quran haruslah dengan akal yang suci, yang terus menerus dikembang tumbuhkan melalui pendidikan. Boeah Fikiran Kijai H.A.Dachlan termuat dalam Almanak Muhammadiyah tahun 1923 secara lengkap disajikan dalam buku ini.
Khittah-12 Muhammadiyah, khittah-12 ialah pandangan dasar yang ditempatkan sebagai pedoman kerja dan pedoman gerak bagi warga Muhammadiyah yang disusun dari tradisi dan gagasan yang berkembang pada saat Muhammadiyah didirikan pada tahun 1912. Pada awal kemerdekaan, Muhammadiyah menjadi anggota istimewa Masyumi di mana anggota Muhammadiyah secara otomatis menjadi anggota partai ini. Selanjutnya, di awal Orde Baru,sesudah menyatakan melepaskan diri dari status sebagai anggota istimewa Masyumi, Muhammadiyah ikut aktif dalam proses kelahiran Partai Muslimin Indonesia (Parmusi).
Peletak Tradisi Sosio-Ritual (Pendidikan) Dalam Indonesia Modern, Tradisi sosio-ritual adalah partisipasi publik terhadap praktek sedekah, infaq dan zakat bagi kepentingan publik, membangun sekolah, tempat ibadah, panti asuhan dan amal sosial lainnya. Di sisi lain, pembaruan (ijtihad) pendidikan Kiai Dahlan merupakan langkah awal yang perlu ditindaklanjuti generasi sesudahnya. Bahan dasar keputusan Muktamar ke-46 tahun 2010 di Yogyakarta tentang Revitalisasi Pendidikan Muhammadiyah, berikutnya perlu dirumuskan suatu konstruksi teoritis(ilmu) yang lebih bisa memberi panduan teoritis dan teknologis bagi pemecahan persoalan pendidikan saat itu.
Pencerahan Kemanusiaan Kiai Dahlan Bagi Pembebasan Kemiskinan Struktural. Di tengah praktik hidup hedonis dan korup elite negeri ini, penting dibaca ulang etos gerakan pembaruan diawal Muhammadiyah didirikan Kiai Ahmad Dahlan. Tafsir Al-Ma'un melahirkan pembaruan pengelolaan zakat dan fitrah, ibadah korban, hingga infaj dan sedekah untuk membiayai aksi-aksi sosial. Ironinya, gagasan dasar pendiri Muhammadiyah itu kurang ditangkap generasi pelanjut yang kini mulai mengambil alih kepemimpinan.
Diusia lebih 1 abad waktunya generasi baru gerakan ini melakukan rasionalisasi lebih produktif ibadah bermatra sosial seperti zakat, haji dan korban menyembelih hewan. Nilai daging yang menjadi hak dluafa dan fakir miskin senilai 2/3 dari 7.2 sd 9,6 trilyun = kurang lebih 4,8 sd 6,2 trilyun rupiah.
Etos Guru-Murid Kiai Haji Ahmad Dahlan salah satu gagasan sederhananya yang cukup menarik belakangan ini banyak dikaji dalam pemikiran pendidikan kontempoter ialah apa yang disebut sebagai "etos guru-murid" dari pemikiran Kiai Ahmad Dahlan. Kiai Haji Ahmad Dahlan lahir di kampung kauman di tengah Kota Yogyakarta pada tahun 1868. Pada usia 55 tahun, tepat pada bulan Februari tahun 1923 beliau pun wafat. Kiai Dahlan adalah putra keempat dari (enam) bersaudara.
Muhammadiyah melalu dan dalam gagasan pendirinya, merupakan suatu praktik kesalehan kemanusiaan yang bersumber dari tafsir atas ajaran Islam tentang kehidupan duniawi. Karena itu, Muhammadiyah merupakan gerakan penerapan ajaran Islam dengan yujuan praktik Islam tersebut berfungsi memecahkan berbagai problem kemanusiaan tanpa memandang agamanya. Karena itu, organisasi yang didirikan tahun 1912 di Yogyakarta oleh Kiai Ahmad Dahlan, yaitu Muhammadiyah, tidak bisa hanya disebut sebagai gerakan pembeharuan, tajdid dan pemurnian Islam. Muhammadiyah adalah gerakan pewujudan(realisasi) ajaran islam dalam kehidupan duniawi. Gerakan ini dilakukan dengan menepatkan kebudayaan sebagai jalan mencapai kesalaham ketuhanan.
Seluruhnya dilakukan bagi upaya penyelamatan kehidupan duniawi seluruh umat manusia di senatero jagad yang ketika itu dipandangnya penuh konflik dan peperangan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar